Sabtu, 13 November 2021-Sebagai pengantar Ustadz Amin Taufiq menyampaikan beberapa nasehat kepada peserta kajian, nasehat pertama: Ada dua hal dimana manusia sering lalai dengan hal tersebut, yaitu lalai terhadap nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Contohnya lalai ketika sehat kakinya tetapi tidak digunakan untuk melangkahkan kakinya menuju ke masjid beribadah kepada Allah Ta’ala. Manusia baru merasakan besarnya nikmat sehat ketika dirinya sakit, kemudian berandai alangkah nikmatnya jika kakinya sehat bisa berjalan menuju masjid. Ada satu kondisi khusus meskipun sakit tidak bisa beribadah secara normal namun masih terhitung seperti beribadah normal seperti biasanya apabila dalam kondisi sehatnya istiqomah dalam beribadah. Oleh karena itu istiqomah dalam beribadah dalam kondisi sehat sangat penting untuk dilaksanakan. Meskipun kesibukan seperti apapun maka harus tetap beribadah yang orientasinya hanya untuk Allah Ta’ala. Nasehat kedua: Hendaknya kita senantiasa menata niat setiap aktivitas yang kita lakukan, karena dalam kaidah fiqih yang furu’ meskipun perbuatan yang kita lakukan bersifat mubah jika kita niatkan untuk wasilah ibadah maka perbuatan tersebut bernilai ibadah. Contohnya: tidur pada awal malam yang diniatkan supaya bisa bangun malam untuk melaksanan sholat tahajud, maka tidur kita terhitung ibadah. Nasehat ketiga: untuk para guru sangat penting untuk senantiasa memperbaharui niat dalam mengajar yaitu dalam rangka untuk berjuang beribadah kepada Allah Ta’ala melalui dunia pendidikan. Mengajar merupakan profesi mulia, karena Allah dan banyak makhluk-Nya mendoakan orang yang mengajarkan ilmu dan kebaikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, sampaipun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mkengajarkan kebaikan kepada manusia” (Hadist Abu Umamah Riwayat Tirmidzi).

Pada kajian ini masih melanjutkanbab berkenaan dengan Khataman an-Nubuwwah Rasulullah Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam.

(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ubadah ad DlabiAli bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari Umar binAbdullah, dari Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang puteraAli bin Abi Thalib karomallahu wajhah.)

Dalam suatu riwayat, Alba’bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb: "Abu Zaid berkata:Rasulullah saw bersabda kepadaku : Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku'. Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khatam. Aku (alba' bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid:Apakah Khatam itu?’ Abu Zaid menjawab: `kumpulan bulu-bulu*’.

(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Ashim dariUzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba’bin Ahmar al Yasykuri).

Abu Buraidah r.a. menyatakan: Salman Al Farizi telah datang kepada Rosulullah Muhammad shalalahu ‘alaihi wassalam, ketika permulaannya datang ke Madinah, dengan satu hidangan yang membawa ruthab (kurma yang belum matang menjadi tamar), beliau meletakkannya di hadapan Rosulullah shalalahu ‘alaihi wassalam. Baginda bertanya: “apakah ini wahai Salman?. Beliau menjawab: sedekah untukmu dan sahabat-sahabatmu. Rasulullah shalalahu ‘alaihi wassalam menjawab: Angkatlah hidangan ini karena kami tidak termasuk golongan yang tidak makan sedekah. Kemudian diapun mengangkatnya. Keesokan harinya beliau datang kembali dengan membawa hidangan yang sama dengan yang kemarin. Baginda Rosulullah shalalahu ‘alaihi wassalam bertanya lagi: Apa pula ini wahai Salaman. Beliau menjawab: Ini adalah hadiah untukmu. Maka Rosulullah berkata kepada para sahabatnya: Ulurkanlah tangan (untuk makan). Kemudian Salman melihat Al Khatam di belakang Rosulullah shalalahu ‘alaihi wassalam, lalu beliau beriman dengan Baginda Rosulullah Muhammad shalalahu ‘alaihi wassalam.

(bersambung pada kajian berikutnya)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!