LPI HIDAYATULLAH- Sertifikasi guru Al-Qur’an metode UMMI merupakan pelatihan untuk membekali siswa, supaya mereka memiliki skill atau kemampuan untuk mengajarkan Al-Qur’an di masyarakat kelak.

Nah, dalam rangka mengembangkan kemampuan mengajar Al-Qur’an sejak dini, SMA Islam Hidayatullah bekerjasama dengan UMMI Foundation menggelar pelatihan sertifikasi guru Al-Qur’an metode UMMI pada 5-7 Februari 2024.

Sertifikasi guru Al-Qur’an menjadi agenda tahunan SMA Islam Hidayatullah yang diadakan setiap semester 2. Namun sebelumnya di semester pertama diadakan tashih terlebih dahulu.

“Pesertanya merupakan anak-anak yang lulus tashih di semester 1 dan sebelumnya yakni dari kelas 11 dan 12 sejumlah 74 siswa. Sebenarnya ada 77 siswa namun ada 3 siswa yang berhalangan hadir lantaran sakit dan ada kegiatan lain,” tutur Ibu Miskiyatul Fudlolah selaku guru Al-Qur’an SMA Islam Hidayatullah Semarang pada 7 Februari 2024.

BACA JUGA : Sertifikasi Guru Al-Qur’an metode UMMI untuk Tingkatkan Mutu Pembelajaran

Selain melatih kemampuan siswa dalam mengajarkan Al-Qur’an, adanya sertifikasi guru Al-Qur’an ini juga bermanfaat agar siswa lebih siap mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di sekolah.

“Biasanya SMA Islam Hidayatullah juga bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait untuk mengajarkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sehingga siswa akan lebih siap mengaplikasikan ilmu yang didapat. Tidak hanya sekedar teori, namun juga dibekali bagaimana cara untuk mempraktekannya,” ujar Ibu Miskiyatul.

Sementara itu, menurut Ustadz Muhammad Wahyudi, S.TH.I selaku trainer dari UMMI Foundation bahwa syarat untuk mengikuti program sertifikasi guru Al-Qur’an ini adalah peserta harus dinyatakan lulus tashih.

“Syarat untuk bisa ikut di program sertifikasi ini adalah para peserta harus sudah melalui beberapa tahapan salah satunya adalah wajib lulus tashih. Apa itu lulus tashih, bagaimana mereka itu standar dalam hal bacaan atau tilawahnya,” tutur beliau.

“Adapun setelah peserta memenuhi persyaratan, mereka harus ikut pelatihan ini selama 3 hari dari pagi sampai sore. Itu sebagai bentuk pembekalan, ketika mereka mendapatkan pelajaran Al-Qur’an di sekolah. Harapannya melalui sertifikasi ini, mereka dibekali juga bagaimana bisa mengamalkan, mengajarkan Al-Qur’an di masyarakat umum, minimal dalam keluarganya masing-masing,” tambah Ustadz Wahyudi.

BACA JUGA : Pentingnya Pendidikan Islam di Era Modern

Program sertifikasi ini memiliki orientasi untuk mempersiapkan kader-kader calon guru Al-Qur’an yang handal, yang professional dan sesuai standart UMMI sehingga secara teknis pelaksanaan kegiatan sertifikasi ini adalah praktek microteaching.

“Orientasi dari program sertifikasi ini adalah microteaching, bagaimana setiap peserta itu kita beri kesempatan untuk praktek langsung mengajar, dan kebetulan saat ini ada 74 siswa, kita bagi 2 kelas dan satu kelas itu kita bagi kelompok-kelompok kecil untuk kita buat kelas-kelas microteaching sehingga ada kesempatan untuk semua peserta bisa praktek microteaching sesuai dengan materi yang kami siapkan,” tutur Ustadz Wahyudi.

“Dan kita juga bekali bagaimana peserta itu bisa mengisi administrasi selama pembelajaran ketika mereka mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain. Kita juga bekali class room management, bagaimana mengelola kelas, baik yang mereka hadapi itu anak kecil, remaja, maupun dewasa di masa-masa mendatang,” tambah beliau.

Semoga melalui program sertifikasi guru Al-Qur’an metode UMMI ini siswa mampu menjadi guru Al-Qur’an yang professional dan handal sebagai bekal mengajar Al-Qur’an di masyarakat kelak. Aamiin***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!