SEMARANG – Pada kajian kelima Hadits Arba’in Nawawi, Habib Jakfar Al Musaawa masih melanjutkan pembahasan hadits kedua tentang rukun iman yang terakhir yaitu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Berikut penggalan hadits yang Beliau sampaikan:
“……..Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rosululloh) menjawab: “Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi berkata: “Engkau benar.” Materi hadits ke-2 ini sangat penting sehingga sebagian ulama menyebutnya sebagai “Induk sunnah”, karena seluruh sunnah berpulang kepada hadits ini.
Habib Jakfar Al Mussawa menjelaskan, bahwa mengukur keimanan harus memenuhi tiga hal yaitu apakah sesuatu yang diimani itu diyakini di dalam hati, diikrarkan dengan lisan kemudian dibuktikan dengan amal perbuatan. Tentang keimanan terhadap takdir yang menjadi pertanyaan untuk kita adalah sudahkah kita menerima terhadap takdir Allah Ta’ala. Menurut Habib Jakfar Al Mussawa takdir artinya ukuran. Contohnya matinya seseorang ada ukurannya atau kalau diteliti pasti ada penyebabnya, misalnya sakit jantung dan lainnya. Jadi Allah Ta’ala menetapkan takdir sesuai dengan ukurannya masing-masing. Contoh lainnya orang yang naik motor dengan kencang dengan orang yang naik motor dengan hati-hati tentu beresiko bagi yang naik motor dengan kencang.
Allah Ta’ala menetapkan takdir yang buruk kepada hamba-Nya agar manusia ingat kepada Tuhannya dan mengharap pertolongan dengan berdoa kepada-Nya. Kalau orang tidak pernah sakit dan tidak pernah diuji dengan kesulitan maka orang itu tidak akan pernah berdoa memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, kemudian yang muncul adalah rasa angkuh atau sombong. Allah Ta’ala mentakdirkan hambanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Contohnya orang kaya yang dipandang memiliki kelebihan ternyata justru mengemis-ngemis kepada tukang batu supaya diperbaiki rumahnya karena orang kaya itu tidak bisa memperbaiki rumahnya sendiri.
Ada kisah seseorang bertanya kepada Sayyidina Ali Rodhiyallahu anhu, kenapa kita harus tetap berusaha, sedangkan takdir sudah ditetapkan Allah Ta’ala. Dijawab oleh Sayyidina Ali Rodhiyallahu anhu: Ya sudahlah kalau kamu celaka, sakit, dan masuk neraka. Janganlah kamu minta pertolongan kepada Allah Ta’ala kalau itu kamu anggap takdir. Habib Jakfar Al Mussawa mengibaratkan karunia Allah Ta’ala seperti listrik yang diberikan secara loss strum, tinggal bagaimana kita mau berusaha untuk memanfaatkannya. Ada orang yang hanya merasa cukup dengan lima watt saja dan ada orang yang berupaya untuk memanfaatkan lebih banyak. Dijelaskan oleh Habib bahwa ada takdir yang bisa dirubah oleh Allah Ta’ala, buktinya adalah dicontohkan Rosulullah shalallahu ‘alaihi wassalam selalu berdoa kepada Allah Ta’ala. Artinya Allah Ta’ala bisa merubah ketetapan apabila Allah Ta’ala menghendaki.
Terhadap takdir yang baik dan yang buruk, Allah Ta’ala memberikan hikmah dibalik kejadian takdir yang ditetapkan kepada hamba-Nya. Sebagai tanda Allah Ta’ala cinta kepada hambanya maka Allah Ta’ala akan menguji hamba-Nya.
Menjawab pertanyaan dari peserta kajian: Allah Ta’ala itu Maha Rahman dan Rahim, kenapa Allah Ta’ala menetapkan takdir yang buruk kepada hamba-Nya, Habib Jakfar Al Mussawa menjelaskan karena di dunia adalah ladang untuk beramal bagi manusia. Kalau semua ditakdirkan baik maka tidak akan ada lagi ladang amal manusia untuk berbuat kebaikan. Akan kita jumpai semua yang ada adalah kebaikan dan tidak keburukan sama sekali jika nanti berada di surga-Nya Allah Ta’ala.
(kajian berlanjut….)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!