SEMARANG– Seluruh umat muslim akan memperingati Idul Adha 1443 H yang jatuh pada Ahad, 10 Dzulhijjah 1443 H atau tepatnya pada 10 Juli 2022 mendatang.

Ya, momen Idul Adha 1443 H tentu identik dengan anjuran untuk menyembelih hewan kurban. Baik itu berupa sapi, kambing, kerbau maupun domba.

Seperti yang diketahui, peringatan Idul Adha tentunya tidak terlepas dari peristiwa yang menimpa Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya.

Tak hanya itu, Nabi Ibrahim AS ternyata menjadi nabi yang dicintai Allah SWT dan menjadi suri tauladan yang baik bagi para nabi.

Lantas apa saja keistimewaan dan tauladan Nabi Ibrahim AS beserta gelar diberikan kepada Nabi Ibrahim AS? Simak penjelasan berikut

  1. Kisah Nabi Ibrahim AS Sebagai Awal Munculnya Idul Adha

Ya, peringatan Idul Adha 1443 H berawal dari kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat mimpi (perintah) dari Allah SWT untuk menyembelih putra semata wayangnya yakni Ismail AS.

Peristiwa itu bermula ketika Nabi Ibrahim AS dan istrinya Siti Hajar belum dikaruniai buah hati. Mereka kemudian meminta kepada Allah SWT agar diberikan keturunan untuk melanjutkan misi dakwahnya.

Disini, Allah SWT mengutus malaikat untuk memberikan kabar gembira dengan kelahiran sang anak, Ismail. QS as shoffat ayat 101

فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ

“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail)”

Namun saat Nabi Ismail AS beranjak dewasa, Nabi Ibrahim AS bermimpi diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih Ismail AS.

Jika di logika dengan akal sehat manusia, tidaklah mungkin orang tua menyembelih anaknya.

Namun karena sebuah perintah dari Allah SWT, Nabi Ibrahim AS pun ikhlas menjalankan perintah Allah SWT setelah bermusyawarah dengan Ismail AS dan keluarganya

Hal ini tercantum dalam surat As Saffat ayat 102, dimana Nabi Ismail AS setuju dengan perintah Allah dan bersiap untuk disembelih sang Ayah.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

” Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati termasuk orang yang sabar.”

Karena keikhlasan beliau, Allah SWT mengutus malaikat untuk menarik/menggantikan Ismail dengan seekor kibas atau domba.

Nah, peristiwa inilah yang menjadi titik awal kemunculan Idul Adha, yang juga bertepatan dengan kegiatan pelemparan jumrah bagi jamaah haji.

Melihat peristiwa ini, umat Nabi Muhammad SAW tidaklah diperintahkan untuk menyembelih anaknya, sebagaimana yang dilakukan Ibrahim. Melainkan umat muslim diperintahkan untuk menyisihkan sebagian rezeki (bagi yang mampu  untuk berqurban sapi atau kambing.

  1. Nabi Ibrahim AS diberi Gelar Abul Anbiya (Bapak Para Nabi)

Ya, Nabi Ibrahim AS menjadi ujung tombak para nabi dan suri tauladan terbaik baik umat muslim lainnya.

Bahkan Nabi Muhammad SAW pun diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengikuti kebaikan sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim AS

Hal ini sebagaimana disabdakan dalam A-Quran:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Q.S. An-Nahl [16] : 124).

Allah memberikan derajat luhur kepada Ibrahim sebagai khalil karena kualitas pribadinya yang mulia, seorang dermawan, rela berkorban, peduli pada orang lain, dan kecintaannya kepada Allah yang sangat mendalam, sehingga semua yang diwajibkan Allah untuk dirinya pasti dilaksanakan dengan baik.

  1. Ibrahim AS, Nabi Kesayangan Allah SWT (Gelar Khalillulah) dan Namanya Sering disebut di Al Qur’an

Ya, nama Nabi Ibrahim AS ternyata sering  disebutkan dalam Al-Qur’an. Bahkan dalam setiap shalat, nama Nabi Ibrahim selalu disebut dalam tasyahhud akhir, yang juga selalu bersanding dengan Nabi Muhammad SAW. Dan kita mengenalnya dengan nama “Shalawat Ibrahimiyah”

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وعلى آلِ إبْراهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما بَاركْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آل إبراهيم في العالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma sholli ‘alaa Muhammadin wa’alaa Aali Muhammadin, Kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiima wa’alaa Aali Ibrahiima, wa Baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa Aali Muhammadin, Kamaa Baarakta ‘alaa Ibraahima wa ‘alaa Aali Ibraahima, Fil ‘Aalamiina innaka hamiidun Majiidun.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Nah, itulah mengapa Nabi Ibrahim diberikan gelar Abul Anbiya ( Bapak/ ayah para nabi) dan gelar Khalilullah (Kekasih Allah, Kesayangan Allah). Hal ini lantaran kebaikan dan kepatuhannya pada Allah SWT.

Peristiwa ini mencerminkan ketakwaan Nabi Ibrahim AS, Ismail AS beserta keluarganya akan perintah Allah SWT.

Semoga Allah menjadikan keluarga kita ahlul taqwa.

ليس شيء أقر لعين المؤمن من أن يرى زوجته وأولاده مطيعين لله عز وجل

“Tidak ada yg lebih menyejukkan hati seorang Mukmin dibanding melihat istri dan anak-anaknya taat kepada Allah ‘azza wa jalla. (Imam al-Qurthubi rh).***

 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!